Efek Membaca Buku yang Benar-benar Mengubahmu — Dari Kepadatan Otak hingga Kemampuan Berolahraga

Halo, ini Shinbidays 🙂
Hari ini, saya ingin menulis artikel yang mungkin bermanfaat bagi banyak orang.
Saya sengaja meluangkan waktu untuk membaca buku.
Saya juga berolahraga hampir setiap hari.
Jika olahraga adalah waktu untuk membangunkan tubuh,
maka membaca adalah waktu untuk membangunkan hati dan pikiran.
Sejujurnya, saya tidak membaca karena alasan yang muluk-muluk.
Tidak ada yang menyuruh saya membaca, dan saya juga tidak punya tujuan besar saat membaca.
Hanya saja, ketika saya membuka buku dalam rutinitas harian,
pikiran saya sedikit lebih teratur dan hati saya menjadi lebih tenang.
Dan anehnya, jika saya rutin membaca, cara pandang saya terhadap dunia sedikit demi sedikit berubah.
Satu kalimat yang dulu saya lewatkan begitu saja, suatu hari bisa sangat membekas di hati,
dan cerita yang dulu saya abaikan, suatu saat bisa membuat saya merenungkan kembali hidup saya.
Saya selalu merasa begitu.
Buku adalah olahraga paling hening untuk pikiran.
Saat membaca, kita mulai melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda
Ketika membaca buku, kadang ada momen seperti ini.
“Oh, orang ini juga menjalani hidup seperti ini, ya.”
“Ternyata ada orang yang hidupnya jauh lebih sulit dariku.”
“Kalau dipikir-pikir, saya cukup beruntung, ya.”
Pikiran-pikiran seperti ini kadang muncul dengan tenang.
Dan anehnya, itu bisa menghibur.
Kesulitan saya tidak hilang, tapi cara pandang saya terhadap kesulitan itu sedikit berubah.
Saya tidak sendirian berjalan di jalan ini.
Ada orang yang telah melewati masa-masa yang lebih berat, dan mereka belajar serta meninggalkan sesuatu di dalamnya.
Mengetahui hal itu membuat hati sedikit melunak.
Buku kadang tidak langsung menyelesaikan masalah saya,
tapi membantu saya melihat masalah saya dari sudut pandang yang berbeda.
Dan perbedaan itu ternyata sangat besar.
Meski menjalani hari yang sama,
hari itu bisa menjadi sangat berbeda tergantung dari sudut pandang kita.
Mata untuk memahami orang lain juga sedikit demi sedikit meluas
Saat membaca buku, cara pandang terhadap orang lain juga berubah.
“Oh, orang-orang berpikir begini karena ini, ya.”
“Di balik pilihan ini, pasti ada latar belakang seperti ini.”
“Kita tidak bisa tahu segalanya hanya dari penampilan luar.”
Saya sering memikirkan hal-hal seperti ini.
Baik saat membaca novel, esai, maupun buku non-fiksi.
Ketika kita perlahan mengikuti kehidupan seseorang, kita sedikit banyak akan memahami mengapa mereka berkata atau memilih sesuatu.
Tentu saja, membaca satu buku tidak akan membuat kita tiba-tiba memahami semua orang.
Tapi setidaknya, sikap menghakimi kita menjadi sedikit berkurang.
Dari “Kenapa orang itu begitu?” menjadi
“Situasi apa yang mungkin dialami orang itu?” — pikiran kita melangkah lebih jauh.
Saya pikir itu adalah hadiah yang sangat besar dari membaca.
Memahami orang lain lebih dalam.
Dan menjadi sedikit lebih lembut pada diri sendiri juga.
Cara melihat konten juga berubah

Jawed Karim / Chad Hurley / Steve Chen
Akhir-akhir ini, saya sedang membaca buku berjudul 『Kelahiran Kerajaan YouTube』.
Ada bagian yang benar-benar mengejutkan saya saat membacanya.
YouTube ternyata tidak dimulai sebagai platform video raksasa seperti sekarang.
Awalnya, idenya lebih mirip layanan untuk mengunggah video kencan.
Membayangkannya dibandingkan YouTube yang kita kenal sekarang, rasanya agak lucu dan menarik.
“Bahkan platform raksasa pun awalnya punya permulaan yang kikuk, ya.”
Pikiran itu cukup lama membekas di benak saya.
Kita biasanya hanya melihat hasil akhirnya, kan?
Saluran yang sudah besar, layanan yang sudah sukses, merek yang sudah mapan.
Tapi saat membaca buku, kita bisa melihat percobaan dan kesalahan di baliknya.
Awalnya canggung, arahnya berubah, bahkan ada upaya yang terlihat seperti kegagalan.
Mengetahui hal itu memberi sedikit keberanian.
Artikel, video, blog, merek yang saya buat sekarang pun
tidak harus sempurna sejak awal.
Yang penting bukan menemukan jawaban yang benar sejak awal,
tapi terus membuat, mengamati, dan sedikit demi sedikit menemukan arahnya.
Buku memberi keberanian yang realistis seperti itu.
Bukan harapan yang samar-samar,
tapi keberanian yang jujur, “Oh, ternyata semua orang memulai seperti ini, ya.”
Otak juga benar-benar berubah
Dan saat membaca buku, bukan hanya perasaan kita yang membaik, tapi otak juga benar-benar aktif bergerak.
Saat membaca, otak kita melakukan beberapa hal secara bersamaan.
Memahami kalimat, membayangkan adegan, mengingat memori, merasakan emosi, dan menghubungkan konteks.
Meskipun kita hanya duduk diam membalik halaman buku,
banyak hal yang terjadi di dalam pikiran kita.
Saya sering membandingkan ini dengan olahraga.
Sama seperti otot yang menguat saat mengangkat beban,
otak juga sepertinya sedikit demi sedikit memperluas jalur pemikiran saat membaca.
Seperti jalan yang sering dilewati menjadi lebih lebar,
rasanya ada lebih banyak jalur yang terbentuk di dalam pikiran orang yang sering membaca dan berpikir.
Semakin lama saya bermeditasi dan membaca buku, semakin sering saya merasa pikiran saya meluas.
Pikiran-pikiran yang dulu terasa sesak dan kusut, kini terasa sedikit bernapas.
👇Jika Anda ingin membersihkan energi negatif, bacalah artikel di bawah ini 🙂
Anehnya, ini juga membantu kemampuan berolahraga
Mungkin sedikit mengejutkan, tapi saya merasa membaca juga membantu dalam berolahraga.
Olahraga pada akhirnya adalah tentang seberapa baik kita bisa mengendalikan tubuh.
Berat memang penting, tapi yang lebih penting adalah kontrol.
Kontrol itu berasal dari konsentrasi, dari sistem saraf, dan dari seberapa jelas kita bisa membayangkan tubuh di dalam pikiran.
Waktu membaca adalah waktu untuk mengikuti satu kalimat, tidak kehilangan alur, dan membayangkan adegan di dalam pikiran.
Jadi, orang yang membaca, meskipun hanya duduk diam, sebenarnya sedang melakukan latihan konsentrasi.
Saya merasa konsentrasi yang tenang itu juga berlanjut saat berolahraga.
Kekuatan yang dulu saya gunakan untuk fokus pada satu baris di meja, kini menjadi postur yang stabil saat berolahraga.
Itulah mengapa saya tidak memisahkan membaca dan berolahraga.
Jika olahraga membuat tubuh menjadi kuat,
maka membaca sepertinya membuat orang yang mengendalikan tubuh itu sendiri menjadi kuat.
Hati juga menjadi lebih tertata
Saya baru saja membersihkan rumah 😀
Benar-benar, saya membersihkan rumah sampai rapi.
Dan anehnya, saya merasa stres saya berkurang drastis.
Padahal hanya kamar yang bersih,
tapi rasanya pikiran saya juga ikut tertata.
Saya penasaran and mencari tahu, ternyata sensasi ini adalah respons yang cukup alami secara psikologi evolusi.
Lingkungan yang rapi dapat membuat otak kurang tegang dan merasa lebih aman.
Kalau dipikir-pikir, buku juga mirip.
Jika membersihkan adalah menghilangkan debu di dalam ruangan,
maka membaca adalah perlahan-lahan membersihkan debu di dalam hati.
Saat menjalani hari, debu juga menumpuk di dalam hati, kan?
Kecemasan, perbandingan, luka kecil, perkataan yang mengganggu pikiran.
Tapi ketika kita membuka buku dan mengikuti setiap barisnya,
pikiran yang tadinya bising sedikit demi sedikit menjadi tenang.
Pikiran yang kusut terasa seperti diatur satu per satu saat mengikuti tulisan.
Jadi, saya menganggap membaca sebagai pembersihan pikiran.
Oh, and karena saya mengatakan ini, rasanya saya harus segera menunjukkan rumah saya.
Suatu saat nanti, jika ada kesempatan, saya akan sedikit menunjukkan kamar saya.
Tentu saja, untuk saat ini saya akan tetap menjaga sedikit misteri 🤣🤣
Sayang sekali kalau kamar yang sudah bersih terlalu cepat dipamerkan 🙂
(Sejujurnya, saya belum selesai membersihkan semuanya haha)
Bagaimana cara membaca yang baik?
Begini cara saya membaca.
- Jika memungkinkan, saya membaca buku fisik. Sentuhan ujung jari memberikan konsentrasi yang tidak ada di layar.
- Membaca sebelum tidur meningkatkan kualitas tidur dan membuat mimpi lebih jelas.
- Kecepatan membaca perlahan, dengan pemahaman yang mendalam.
Waktu untuk berhenti sejenak memikirkan satu kalimat juga penting.
Tidak perlu merasa terbebani harus membaca banyak.
Yang penting adalah kembali ke pusat diri melalui buku.
Perlahan, dalam, sedikit demi sedikit.
Dimana cukup.
Bagaimana kalau Anda juga membaca satu buku malam ini?

Mulai dari momen tenang membalik halaman buku itu, lebih banyak hal akan mulai berubah secara perlahan daripada yang Anda kira 🙂
Terima kasih sudah membaca hari ini.
Saya sayang kalian.
— Dari Shinbidays 🐢💛
