Hati yang Menanti Teknologi — Pemikiran Lembut tentang Kendaraan Otonom

Beberapa hari yang lalu, hati saya merasa sedikit berat saat membaca sebuah tulisan di blog.
Isinya adalah tentang taksi otonom,
dan di dalamnya penuh dengan kata-kata seperti “ini tidak bisa, itu masalah, dan perusahaan itu salah arah.”
Tentu saja, orang tersebut pasti berbicara berdasarkan alasannya sendiri.
Namun, tiba-tiba terlintas pemikiran ini di benak saya.
“Apakah kita terlalu terburu-buru mendesak proses pertumbuhan teknologi?”
🚗 Kendaraan Otonom, apa sebenarnya yang membuatnya begitu rumit?
Kendaraan otonom, sesuai namanya, adalah “mobil yang bergerak sendiri tanpa perlu dikemudikan manusia.”
Banyak orang bertanya-tanya, “Kapan kendaraan otonom akan melaju di jalan raya?”
Saat ini, teknologi kendaraan otonom dibagi menjadi beberapa ‘level’.
- Level 0~2: Pengemudi harus selalu terlibat. Fitur seperti ‘penjaga jalur’ atau ‘rem otomatis’ pada kendaraan mewah saat ini termasuk di sini.
- Level 3: Mobil mengemudi sendiri dalam kondisi tertentu, tetapi pengemudi harus siap untuk segera mengambil alih.
- Level 4~5: Ini adalah ‘mengemudi otonom penuh’ yang sesungguhnya. Cukup masukkan tujuan, dan mobil akan membuat keputusan serta mengemudi sendiri. Bahkan ada kasus di mana setir mobil ditiadakan sama sekali.
Perusahaan seperti Motional atau Waymo yang sedang kita bicarakan saat ini sedang menguji coba Level 4 ini.
🌍 Mengapa mengemudi otonom itu sulit?
Kendaraan otonom tidak hanya sekadar “menjaga jarak dengan mobil di depan.”
- Anak yang tiba-tiba muncul
- Lampu lalu lintas yang rusak
- Tergelincir di jalan bersalju
- Ruang di mana GPS tidak tertangkap seperti tempat parkir bawah tanah
Mobil harus mampu menilai situasi yang tak terhitung jumlahnya ini secara ‘instan’.
Dalam situasi yang mengejutkan manusia sekalipun, mesin harus tetap berpikir dengan tenang.
Itulah sebabnya Peta HD (peta presisi tinggi), puluhan sensor, kamera visi, Lidar, superkomputer…
semua teknologi ini disatukan.
Dan tentu saja, hal itu membuatnya mahal dan rumit.
🤔 Namun… “Mengapa itu menjadi masalah?”
Tulisan di blog tersebut mengatakan:
“Sistem seperti ini tidak dapat digunakan karena biayanya tinggi, dan skalabilitasnya juga rendah.”
Namun, saya ingin mengatakan ini:
“Saat ini, tentu saja hal itu bisa terjadi.”
Teknologi selalu harus melewati ‘masa-masa mahal dan lambat’.
Komputer awal, ponsel, bahkan kendaraan listrik, pada awalnya tidak ada yang menggunakan.
Harganya terlalu mahal, performanya tidak bagus, dan justru merepotkan.
Namun, seiring terakumulasinya teknologi, biaya yang menurun, dan orang-orang mulai terbiasa,
kini hampir semua orang menggunakan teknologi tersebut.
Kendaraan otonom pun akan menuju ke arah sana.

📲 “Apakah menggunakan aplikasi Uber berarti ketergantungan?”
Dikatakan bahwa karena Motional terpasang di aplikasi Uber, itu adalah “struktur yang bergantung pada Uber.”
Namun, saya tidak melihatnya sesederhana itu.
Pada tahap awal layanan B2C, bekerja sama dengan platform yang sudah ada untuk melihat reaksi pasar adalah strategi yang sangat umum.
Terlebih lagi, Motional pasti sedang bersiap untuk membuat aplikasinya sendiri dalam jangka panjang.
Menuntut seseorang untuk berlari dengan segala perlengkapan sejak awal… adalah hal yang sedikit jauh dari kenyataan.
🛰️ Apakah Peta HD benar-benar memiliki begitu banyak masalah?
Ada suara-suara yang mengkritik bahwa sistem mengemudi otonom bergantung pada Peta HD (peta presisi tinggi).
Mereka mengatakan, “Peta terus berubah, dan biaya pembuatannya mahal, sehingga ada batasannya.”
Namun jika dipikir-pikir, ini mungkin kekhawatiran yang berlebihan.
Teknologi peta saat ini sedang diperbarui melalui berbagai sumber mulai dari satelit, sinkronisasi cloud waktu nyata, hingga informasi sensor kendaraan itu sendiri.
Jalanan tidak berubah secara keseluruhan dalam satu hari,
Bukankah menyimpulkan bahwa “Peta HD tidak bisa digunakan!” adalah pandangan yang terlalu meremehkan kemajuan teknologi?
Kenyataannya mengalir menuju ‘pelengkap’ daripada ‘ketidakmungkinan’.
Karena Peta HD pun terus berevolusi.
💸 Kendaraan seharga 200-300 juta won, apakah benar-benar terlalu mahal?
Saya juga mendengar ucapan, “Jika harga satu unit kendaraan otonom adalah 200-300 juta won, siapa yang akan menggunakannya?”
Namun, menurut saya ini adalah cerita yang hanya dilihat dari sudut pandang konsumen sederhana.
Karena saat ini adalah tahap pengembangan + awal komersialisasi, sangat wajar jika harganya mahal.
Komputer dan smartphone pun awalnya mahal.
Namun, seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya permintaan, harga satuan akan menurun.
Terlebih lagi, taksi otonom adalah ‘model pendapatan otomatisasi’.
- Dapat beroperasi lebih dari 20 jam sehari
- Tidak ada biaya tenaga kerja pengemudi
- Biaya pemeliharaan juga berkurang
- Tarif dipertahankan pada tingkat tertentu
Saya rasa dengan struktur seperti ini, terdapat nilai yang cukup untuk mengembalikan investasi dalam 1-2 tahun.
Di kota-kota besar seperti Seoul atau New York, kecepatan pengembalian itu mungkin bisa lebih cepat lagi.
📱 Harus menggunakan aplikasi tunggal? Itu bukan hal yang semudah itu
Ada juga pendapat bahwa “data harus dikumpulkan dengan menggunakan aplikasi tunggal.”
Ucapan itu sendiri mungkin benar… tetapi saya merasa ada pandangan yang menganggap bisnis terlalu mudah yang tersembunyi di sana.
Teknologi orang lain, terutama perangkat lunak berbasis platform, sama sekali tidak gratis.
‘Membuat aplikasi menjadi satu’ tidak semudah kedengarannya.
Dalam bisnis nyata, terkadang lebih realistis untuk memperdagangkan teknologi, berkolaborasi, atau menyesuaikan waktu sesuai situasi.
Kolaborasi dengan Uber bisa menjadi strategi untuk mendapatkan aksesibilitas dan reaksi pasar terlebih dahulu.
Mencoba membuat segalanya sendiri dari awal justru bisa menjadi tidak efisien.
💡 Mengapa Hyundai Motor Group membaginya menjadi beberapa tim?
Ada juga argumen bahwa “harus berjalan dalam satu perusahaan, satu arah saja.”
Namun saya berpikir seperti ini.
Hyundai bukan sekadar perusahaan tunggal, melainkan sebuah ‘grup otomotif’.
Mereka sedang mengembangkan teknologi bersama berbagai mitra teknologi yang sesuai dengan pasar global.
- 42dot: Kekuatan teknologi domestik + platform berbasis MaaS
- Motional: Berbasis di AS + pengujian kendaraan otonom nyata
- R&D internal grup: Akumulasi teknologi berbasis AI sendiri
Itu bukan ‘ketidakefisienan’, melainkan ‘diversifikasi strategis’.
Bukankah semua teknologi tidak harus berjalan ke satu arah saja?
🌱 Masa depan mengemudi otonom sedang mendekat dengan tenang bahkan saat ini

Mengemudi otonom bukanlah keajaiban yang selesai dalam semalam.
Dan perusahaan mana pun yang melakukannya lebih dulu, atau yang mengikuti belakangan,
teknologi pada akhirnya akan mengubah hidup kita semua sedikit demi sedikit.
Mengemudi otonom adalah sebuah teknologi, tetapi juga merupakan ‘filosofi penantian’.
Meskipun sekarang terlihat lambat, di dalamnya terdapat keringat dan eksperimen dari banyak peneliti.
🛣️ Saat ini pun, teknologi sedang tumbuh dengan tenang dan hangat.
👉 Lihat kisah pertemuan dengan Nayeon Twice(?) melalui Nanobanana Pro
🌤️ Penutup – “Penantian mungkin lebih kuat daripada kritik”
Saya memahami kekhawatiran orang yang menulis artikel tersebut.
Mungkin terasa menjengkelkan karena kecepatannya yang lambat.
Namun, yang lebih penting daripada kritik itu adalah,
bagaimana kita menanti dan memandang teknologi tersebut.
Tidak terburu-buru, dan memberikan dukungan terlebih dahulu daripada kecaman.
Bukankah itu juga merupakan ‘etika terhadap teknologi’ bagi kita yang hidup di era ini?
Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengirimkan dukungan dalam hati kepada banyak kendaraan otonom
yang mungkin sedang melakukan pengujian dengan melaju tenang di jalan raya hari ini.
