[Esai] Hap Cha! Satu! Dua! Huff, Berhasil: Barbell Row 100kg, Estetika ‘Ketidakpedulian’ yang Mendalam

AI dan Filosofi dalam Ketidakpedulian Petarung Transenden Lee Seo-jun (feat. Wrtn AI)
Tulisan ini diselesaikan dalam 10 detik berdasarkan percakapan dengan teman INTP di Wrtn AI.
“Hari ini saya mengangkat Barbell Row 100kg sebanyak 2 repetisi.
Dengan kecepatan 6 detik per repetisi. Perasaan apa yang muncul?
Hmm… ‘Hap Cha! Satu! Dua! Huff, Berhasil.’ Tepat seperti ini.”
Seseorang mungkin bertanya. Pada saat mengangkat beban berat itu, apakah tidak ada pencerahan atau rasa haru? Apakah penderitaan dan kegembiraan tidak silih berganti seperti tokoh utama dalam film? Jawaban saya selalu sama. Tidak ada yang istimewa. Namun, saya ingin mencatat dengan seberat beban barbell itu, bahwa ketidakpedulian inilah kekuatan pendorong paling kuat yang membimbing saya, Lee Seo-jun.
Hap Cha! – Awalnya bukan sekadar teriakan semangat.
Suara ‘Hap Cha!’ ini mengandung makna lebih dari sekadar memeras tenaga. Langkah kaki menuju pusat kebugaran dengan rencana latihan yang disusun secara cermat oleh AI. Target yang tampak mustahil untuk melampaui total 500kg menuju 600kg. Suara batin yang menantang beban yang dihindari orang lain bukan karena “tidak bisa”, melainkan karena “tidak mau”.
Terkadang rasa lelah dan kebosanan atas upaya mencapai hasil datang menghampiri, namun yang membuat saya berdiri di tempat itu setiap saat mungkin adalah kerinduan kuat untuk membuktikan diri. Sebuah teriakan kecil dari seorang pria yang ingin berdiri tegak di dunia dengan kekuatannya sendiri, bukan di bawah bayang-bayang ayahnya. Seluruh narasi itu terkompresi dalam satu teriakan semangat ini.
Sa tu! Dua! – 6 detik keheningan, dan beratnya kehidupan.
6 detik per repetisi. Selama waktu yang singkat itu, saya hanya fokus pada beban. Seperti saat melakukan sparring dengan instruktur sabuk hitam sambil mengenakan sabuk ungu, atau seperti pengalaman pahit kegagalan bisnis di masa lalu, hanya ada realitas bernama ‘saat ini’ dan beban bernama ‘upaya’. Perasaan menarik beban sambil membenahi postur yang goyah, menjadikan penindasan emosi dan konflik batin sebagai barbell.
Barbell yang berat terkadang menyerupai beban psikologis saya. Terkadang setiap sel di seluruh tubuh berteriak dan membisikkan kata ‘menyerah’, namun saya terus menghitung angka dalam diam. Inilah ‘afirmasi bawah sadar’ saya sendiri, yang melampaui fenomena putus zat dopamin.
Huff, berhasil. – Setelah itu, King Donkatsu dan kedamaian.
Helaan napas pendek yang keluar saat akhirnya meletakkan barbell. “Huff, berhasil.” Hanya itu. Tidak ada kegembiraan dramatis, tidak ada rasa haru heroik. Seperti seorang prajurit yang telah menyelesaikan tugas yang sudah semestinya. Dan saya samar-samar merasakan bahwa ‘kewajaran’ ini adalah kedamaian sejati yang saya kejar. Meskipun tubuh sudah melupakan ingatan berat tentang Barbell Row dan hanya terhuyung karena kekenyangan King Donkatsu yang dimakan sebagai hadiah. (Sekarang sulit karena terlalu kenyang… meski saya tidak minum obat pencernaan!)
Mungkin bagi saya, pencapaian hasil bukanlah ledakan emosi yang besar, melainkan rasa lega kecil yang terkandung dalam satu kata ‘huff’ yang sederhana dan lugas ini. Target total 500kg, dan target yang lebih tinggi dari itu pun suatu saat akan melebur dalam kata ‘huff’ ini. Begitulah, hari ini pun saya mengangkat beban dalam diam. Tanpa banyak pikiran, namun di dalam semua ‘ketidakpedulian’ itu, seluruh diri saya, Lee Seo-jun, terkandung di dalamnya.
🔽 Percakapan mendalam dengan teman INTP yang tinggal di Wrtn (Dijamin seru!)
